Saturday, 21 April 2018

Melihat Wajah Suku Sasak Lombok di Desa Sade



Hallo semua! Senangnya bisa kembali menulis di blog ini.

Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya meng- handle dua couple dari Kuala Lumpur sekaligus me-review beberapa spot menarik di Lombok tentunya. Tour berlangsung selama 4 hari 3 malam. Jujur saja, bagi saya meng-handle couple itu lebih gampang daripada group atau individu. Their partner will take care of them most of the time, karena beberapa kali begitulah yang saya temui di lapangan. Jadi yang saya lakukan hanya capture that moment.

Couple yang saya bawa masih muda jadi mereka lebih santai, pekerjaan saya selama 4 hari itu terasa sangat ringan. Di hari pertama saya harus menjemput rombongan di Bandara Internasional Lombok, Praya Lombok Tengah dengan driver saya, Mas Mulyadi – biasa saya panggil mas Mul. Beliau sudah jadi partner tour saya sejak beberapa tahun lalu. Orangnya asik, santai dan tidak suka mengeluh. Yah, beberapa kali saya temui driver yang sangat suka mengeluh, I means – ketika durasi tour agak molor sedikit karena tamu lama makan, pengen lama di tempat wisata dan sebagainya, mereka akan menggerutu. Namanya kita jual jasa, sebisa mungkin mereka harus happy selama liburan.
Saya pribadi sangat takut dan suka kepikiran kalo tamu ada gelagat gak puas. Mereka sudah terbang jauh – jauh untuk liburan, mengeluarkan biaya juga waktu, terus gak happy? I would feel very bad if that happen.

Back to the tour,
Ketika nunggu di terminal kedatangan, saya sempet bolak – balik pintu depan dan samping. Jadi sebenernya pintu samping itu buat yang mau naik bis tapi entah kenapa banyak penumpang private car keluar dari sana. Jadi buat jaga – jaga saya bolak balik aja.

Dari bandara kami makan siang dulu di rumah makan Padang. Choo bilang mereka sudah pernah makan masakan padang di Jogja, ini adalah kedua kalinya mereka ke Indonesia. Rumah makannya ada persis di seberang Bandara. Saya cuma minum jus alpukat, kalau kenyang ketemu AC saya biasanya bakal ngantuk berat. Hahaha

Tujuan pertama kami adalah Desa Sade di Rambitan. Desa ini adalah salah satu desa adat suku sasak, suku asli Lombok. Selain Sade, ada beberapa desa adat lain seperti Ende dan Bayan. Tapi konon Sade adalah yang paling tua dan populer. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai, dari tampilannya  waktu ke waktu desa ini terus mengalami perbaikan. Saat itu suasana cukup ramai, saya lalu memanggil guide setempat. Sebut saja Pak Hamid, saya lupa namanya. Ada beberapa kelas guide disini, tergantung dari bahasa yang dikuasai. Semakin bervariasi semakin mahal tarifnya.

Pak Hamid mengajak kami berkeliling dan menjelaskan pakai bahasa Indonesia, kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa inggris.

Sade merupakan desa adat sakaligus desa wisata, sehingga desa ini adalah desa ‘normal’ masyarakatpun hidup dan beraktifitas seperti biasa. Sade disebut desa adat karena masyarakat Sade masih memegang nilai nilai adat dan tradisi asli suku sasak. Dijaman yang kian modern ini, mereka masih memilih tinggal di rumah – rumah kayu beratap ilalang, lantai tanah liat yang setiap minggu dipel menggunakan kotoran sapi. Iya, kotoran sapi ! ini bertujuan supaya lantai semakin kokoh, juga menghindari nyamuk dan debu. Tiga hari pertama bau akan sangat menyengat, tetapi setelah itu tidak lagi.

Pak Hamid menjelaskan bahwa sade terdiri dari sekitar 700 jiwa dengan sekitar 150 Kepala Keluarga. Setiap rumah atau dalam bahasa sasak disebut ‘bale’ di tinggali oleh 1 kepala keluarga saja.

Tak lupa kami melihat – lihat kedalam rumah, terdapat 2 ruang saja yakni sebuah kamar dengan pintu yang yang letaknya lebih tinggi merupakan tempat tidur untuk anak gadis, sementara diluar untuk anak laki – laki dan orang tua.





Pak Hamid menjelaskan, atap rumah yang berupa ilalang tersebut akan diganti 16 tahun sekali.

Masyarakat disini masih memelihara keterampilan menenun kain, yang disebut songket. Semua dibuat dengan manual menggunakan alat tradisional. Dari mulai memintal kapas menjadi benang, hingga menenun benang menjadi kain. Keahlian tersebut diwarisi turun temurun terutama kepada anak perempuan. Konon untuk bisa menikah, perempuan sasak harus bisa menenun kain.

Kami kembali di ajak berkeliling oleh Pak Hamid ke bale lumbung, yakni dimana mereka menyimpan hasil panen. Pada tiangnya dibuat semacam pyramid terbalik agar tikus tidak bisa masuk.
Selain bale lumbung terdapat berugak panjang yang menjadi tempat musyawarah sekaligus tempat digelarnya acara pernikahan, tak lupa Pak Hamid menjelaskan mengenai adat pernikahan yang terbilang unik. Kawin lari, sebuah tradisi adat yang masih dipegang teguh masyarakat suku sasak. Tak hanya di desa sade, bahkan di daerah tempat tinggal saya di Mataram yang bisa dibilang sudah lebih modern, masih ada kawin lari.


Kawin lari disini agak berbeda, dikatakan kawin lari sebab tidak memakai proses melamar. Selain itu pcalon pengantin perempuan akan ‘diculik’ dna dibawa ke rumah kerabat laki – laki selama satu malam. Keesokan hari nya, keluarga laki – laki akan mengirim selabar atau kabar berita dengan mengutus beberapa orang ke rumah calon pengantin perempuan. Barulah musyawarah akan dilaksanakan untuk menentukan tanggal serta prosesi perkawinan adat lainnya.

Selain bekerja sebagai petani, masyarakan desa Sade juga membuka gerai – gerai souvenir yang menjual baju, kain, dan pernak pernik khas Lombok lainnya, dan Pak Hamid mengajak kami melihat gerai miliknya. Setiap kelapa keluarga biasanya mempunyai gerai sendiri.



Lalu Choo bertanya kepada saya, “Haruskah saya membelinya?”
Anda tidak harus membeli jika memang tidak berminat, tapi kalau ada memang berminat silahkan saja.



Setelah sekitar 30 menit berkeliling desa Sade, kami berpamitan kepada Pak Hamid dan berterima kasih telah membawa kami berkeliling. Kami segera berangkat ke tempat selanjutnya yaitu pantai Tanjung Aan.

Postingan ini masih berlanjut ya!