Monday, 3 June 2019

SILUET KALA SENJA


Masih segar dalam ingatanku, cahaya temaram menerpa wajahmu kala Senja menyapa 
Berbingkai Jingga yang menghias carkawala 
Berpadu membentuk siluet nan mempesona 
Bersama deru ombak, kulihat sepasang jejak kaki beriringan
Kini Senja telah dilahap sang malam
Menyisakan rindu dan nestapa

Ia nampak muram, garis wajahnya lelah, matanya sembab
Masih berkabung melepas kepergian Jingga
Ia merindu setengah mati, menjerit dalam diam 
Dadanya semakin sesak menahan kesedihannya
Burung - burung saling bersahutan, apa gerangan yang menimpa Senja?
Tangisnya pecah menghujani bumi, deras sekali. 
Selamat jalan Jingga

Waktu telah sampai pada kesudahannya
Pupus sudah harapku, gumam Senja masih terisak
Perpisahan itu terasa begitu menyakitkan baginya
Ia kehilangan tawanya, juga senyumnya, juga warnanya, juga jiwannya
Cahaya keemasan Jingga tak lagi menghiasi langit Senja
Cakrawala menjadi pucat pasi tak berwarna

Bahkan hingga bertahun - tahun berlalu, hati Senja tak kunjung membaik 
Hatinya gersang merindu 
Dipeluknya erat siluet kala Senja nan indah itu 
Entah sampai kapan, ku kira selamanya. 

Selamat Jalan Jingga.. 

Puisi ini saya tulis beberapa tahun lalu, 


Saturday, 25 May 2019

THE WARMEST WINTER ( CHAPTER 2 )


I  N  T  R  O  V  E  R  T

Sayang, kemarin ibu mengobrol dengan Nyonya Ramsey yang memesan 500 Cinnamon roll minggu lalu. Ternyata putrinya satu sekolah denganmu. “ ibu membuka pembicaraan lain.

“ Yup, Helena Ramsey. “ jawab ku datar. 

Si rubah Ramsey itu, menganggap dirinya Kendal Jenner. Dia, Joane Alison dan Pamela Barnett membuat sebuah gank SMA yang membuatku muak. Gadis – gadis manja yang hanya tau bagaimana menghabiskan uang, mereka terbiasa keluar masuk restaurant kelas atas tetapi menganggap Buffalo Chicken terbuat dari daging banteng, atau yang lebih parah, saat Helena Ramsey mengatakan Quebec berada di benua Eropa. Kau boleh tertawa sampai rahangmu keram.

“ Ibu menawarkan diskon karena dia akan menggunakannya untuk acara amal, tapi dia menolaknya dengan sangat, well - rendah hati. “ ibu terdengar ragu.

“ Untuk dibagiakan kepada seluruh sekolah, tepatnya. Atas terpilihnya Helena Ramsey sebagai ketua pemandu sorak SMA kami. “

“ Apa ? kau bercanda? 500 cinnamon roll ? ”

“ Kukira itu tidak ada apa – apanya jika dibandingkan luas peternakan dan property yang mereka punya, Bill Ramsey. Aku membacanya di Koran pagi ini. “ tambah Nicholas. “ Well nona – nona, kita sudah sampai."

______________________________________________________________


Aku menghabiskan jam istirahat di koridor gedung bekas perpustakaan di lantai 3 yang tak pernah di lalui siapapun. Aku bisa melihat hampir seluruh sekolah dari sini, anak – anak yang sedang bermain basket di hari se – terik ini demi teriakan anak – anak perempuan kelas satu. Dan gadis – gadis itu sangat gila, maksudku, Pamella Barnett pernah menyimpan handuk bekas keringat Alex Boston saat kami kelas satu dulu. Aku ingin muntah, yang benar saja!

Aku membuka lembar ke 90 ‘Gone with the wind’ nya Margaret Mitchell hadiah dari Nicholas yang baru sempat ku baca. Ku teguk sedikit jus apel dingin yang barusan kubeli dari kantin, rasanya sangat menyegarkan membasahi tenggorokanku.

Walaupun aku tidak terlalu suka bergabung dengan anak – anak itu, aku suka mengamati mereka semua dari sini. Bagaimana interaksi mereka satu sama lain, tertawa, bertengkar, begitulah aku menghabiskan waktu ku yang membosankan ini.

Reaksi manusia bisa mereka manipulasi sendiri, tetapi jika kau perhatikan dengan teliti bahasa tubuh mereka menyampaikan kebenarannya. Bagaimana si pirang Alison berusaha tetap ‘terkesan’ dengan bualan Helena Ramsey tentang koleksi musim panas Kitten de Amor miliknya, agar dia tetap bisa diakui. Aku telah banyak melihat hal – hal semacam itu bagaimana mereka menelan bulat – bulat kekesalan dan ketidaksukaan lalu berkata “ Demi Poseidon yang Agung!, keren sekali!”

Begitulah  manusia lebih menyukai kebohongan yang manis dan berlari sejauh mungkin dari kebenaran jika menurut mereka  pahit. Melakukan apapun untuk menyeyangkan orang lain, kau tau hidup itu tetang berapa banyak koneksi yang kau punya. Dengan koneksi yang bagus, karir dan hidupmu akan berjalan mulus. Apa kau juga punya persfektif yang sama tentang konsep hidup? Nicholas tampaknya punya pandangan yang sedikit berbeda dari kebanyakan manusia yang kutemui. Nicholas, yang sepanjang hari bertingkah seperti Gagman di depan kami, kadang bisa sangat bijaksana. 

Untuk menikmati anggur di Valhalla, bangsa Viking harus pergi berperang. Medan perang mu saat ini kasat mata, manusia dan sifat - sifatnya. Mereka bahkan lebih mengerikan bukan? Jika kamu bisa mengatasinya, anggur terbaik Asgard ada di tanganmu. Itulah yang selalu Nicholas katakan padaku. 

“ Sera, kau Sera bukan? “ 

sebuah suara menahan langkahku menuju kelas di penghujung jam istirahat. Saat aku berbalik, ku lihat Dave berdiri tepat di belakangku.

“ Hei, kau diam saja. Jawab aku ! kau Sera kan? ”

Aku mengangguk.

Ia tampak mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian memberiku ekspresi yang aneh. Apa aku terlihat bodoh? Apa yang dipikirkan anak ini, entahlah.

“ Kenapa aku tidak pernah melihatmu, Sera? Padahal kita satu kelas. Sangat aneh.”

“ Tidak sama sekali, karena kau hanya masuk beberapa kali dalam seminggu. “ jawabku agak ketus, dia terkekeh.

“ Cepatlah, tentang apa ini Dave? Kau punya waktu 5 menit.” 

Suaraku terdengar ketus dan dingin, dia menyipitkan matanya sorot matanya menembus kedalam mataku. Membuatku, katakanlah – merasa aneh. Kami masih berdiri disana beberapa detik kemudian. Aku selesai menghitung dalam hati dan anak ini masih tidak berkata apapun, baiklah Sera, kau baru aja membuang 5 menit mu yang berharga. Aku melanjutkan langkahku, meninggalkannya yang masih membeku disitu.

“ Hei Sera! Aku belum selesai, cepatlah kembali !"

____________________________________________________________

“ William, apa kau kenal gadis kutu buku yang duduk disana? Aku terkejut ternyata dia tahu namaku, ‘Tentang apa ini Dave” seperti itu. Begitulah dia menyebut namaku”

David Larsson,  bermata biru dan berambut perak khas orang Skandinavia. Ia berbisik kepada William dengan suara yang keras, cukup keras untuk didengar seluruh kelas. Semua anak sontak bertukar pandang sebelum memandang kearahku. Seketika aku menjadi sangat gugup, bertambah gugup saat mendengar langkah Dave mendekat kearahku. Apa yang akan dilakukannya? Aku tidak punya keberanian untuk menaikkan pandanganku dari meja karena mereka semua masih memandangku.

“ Oh ya? Apa kalian pernah bicara sebelumnya?” timbal Wiliiam, si jangkung teman sebangkunya. 

Dave terlihat bepikir sejenak. “Nope, ku rasa karena aku cukup popular.”

Yang benar saja? Popular? Aku ingin terawa sekencang – kencannya, anak ini benar - benar sakit. Aku terkekeh pelan. Bisa - bisanya dia berpikir demikian. 

Tak kusadari Dave sudah hanya beberapa langkah dari mejaku, ku lihat mata hijaunya mengamati ku. Sial, apa yang diinginkan orang ini? Aku tak menghiraukannya, ku buka lembar demi lembar buku, berharap dia segera pergi. 

" Hei, apa yang salah dengan mu? mengapa kau terus mengacuhkan ku?" 

" Sebentar lagi kelas Professor Sullivan akan dimulai. Silahkan katakan yang kamu inginkan." Mungkin aku terdengar sedikit ketus, atau terlalu ketus? Ku lihat garis wajahnya sedikit berubah. Kemudian dia berbalik dan kembali ketempatnya. Tunggu, apakah aku keteraluan padanya? 

Bersambung


Sunday, 19 May 2019

THE WARMEST WINTER ( CHAPTER 1 )

Holla amigos!
It takes forever for me to write on this blog again! Belakangan ini lagi punya waktu luang untuk nulis lagi. Sebenarnya project cerita ini konsepnya udah lama banget saya buat, masih jaman nge-ship Khuntoria. Well, they both are inspiring me to write this story. Hope you guys enjoy this! Thank you. 

S  L  E  E  P     P  A  R  A  L  Y  S  I  S

Dada terasa sesak, napas seakan sudah berada di tenggorokan, ku dengar suara samar memanggil manggil. Jauh dalam kepalaku, aku berusaha mencerna apa yang terjadi, seperti benang - benang kusut yang susah payah aku coba urai kembali. Semua terasa abu - abu, dan hampa. Kudapati diriku buta, tuli dan bisu.

Meringkuk sendirian dalam ruang tak bersudut nan suram, bertanya – tanya dimanakah ujungnya. Apakah aku baru saja bertanya pada diriku sendiri? Sebab tiada apapun disini selain pikiranku, bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri. Dan begitulah aku berakhir, terkurung dalam pikiranku sendiri.
Ku dengar kembali suara samar itu memanggil setelah sekian lama, suara apakah itu? Aku menunggunya datang kembali.

Satu, dua, tiga, empat, lima, ia tak kembali.

Tapi terus kuhitung dalam kepala. Ku dengar jantungku berdenyut bersama kesadaran yang sedikit demi sedikit kembali memenuhi tubuhku dari ujung ke ujung tanpa celah.

Gelombang – gelombang menghantam gendang telingaku, otak ku berusaha mengenali setiap suara yang datang. Otot – otot tubuhku kaku tak bekerja, saraf – saraf nya seperti mati.

“Sera.. Sera.. Sera..”

Suara itu terus berdengung, yang ku kenali sebagai suara ibu.
Aku bisa berpikir dan mendengar, tapi tidak bergerak. Otot – otot tubuh ku masih tak bekerja, bibirku rapat tak bersuraa. Apa yang terjadi? kepanikan memenuhi diriku.

Bangun.. ! bangun.. ! bangun.. !

Pekikan keras dalam kepalaku tapi tak terjadi apapun. Seakan otot dan saraf ku sudah tidak patuh lagi. Mataku tetap tertutup ketika kuminta terbuka, tangan dan kaki tetap kaku saat ku minta bergerak. Ku coba lagi, tetap tak bisa. Aku semakin panik.
Sekuat tenaga aku berontak dari belenggu ini. Ku hitung mundur dan kurasakan diriku terjatuh dari puncak tertinggi Burj Khalifa menghantam tanah – aku sadar.

Napasku masih terengah – engah, gemetaran. Mataku dengan panik menerawang sekeliling, perut terasa mual memikirkan apa yang barusan saja terjadi.

“ Sera.. “ sentuhan ibu pada bahu kanan mendatangkan kekuatan dan kuasa atas tubuhku sendiri. Otot dan saraf sudah bekerja dibawah kesadaranku. Tubuhku terasa sangat lemas seperti telah melepas banyak energi. Jari jemariku bergerak merasakan seprei merah muda yang masih harum. Tanganku bergerak meraih tangan ibu. Aku melihat ia tersenyum , aku mengatakan sesuatu yang ku yakin ia tak mendengarnya.

“Apa? Kau bilang apa?”

“Selamat pagi.” Jawabku.
__________________________________________________________

Pagi ini terasa seperti biasanya, tipikal pagi seorang ‘Sera Namira’ yang sudah kujalani selama 17 tahun. Sebenarnya masih terasa lemas setelah pergulatan pagi tadi, terlebih semalam perutku hanya diisi dengan keripik tortilla. Berharap pagi ini bisa mendapatkan sarapan yang cukup menyenangkan, yang kudapat hanya muffin sisa semalam dan segelas jus jeruk.

“ Cepatlah Sera, kita sudah terlambat.” 

Ibu berteriak dari ruang tamu padahal aku belum selesai minum. “Baik bu, aku datang.” jawabku bergegas mengambil ransel. Diluar ibu sudah siap dengan blouse V-neck putih yang senada dengan kemeja Nicholas, tunangan ibu ku yang dalam satu bulan akan menjadi ayah tiriku. “ Ini tidak direncakan, ku kira semacam ikatan batin. “ jelas Nicholas seperti ia mampu membaca pikiranku. “ aku memberinya tatapan ‘apakah aku bertanya?’ dan ia hanya tersenyum membuka pintu mobil untuk ku.

Sepanjang perjalanan ibu mengoceh tentang betapa indahnya Maldives, dan betapa beruntungnya dia bila bisa kesana. Well, kita semua pasti tahu kemana arah pembicaraan ini, sebuah bulan madu romantis di pulau dengan pantai dan sinar matahari yang hangat jauh dari kota yang sibuk. Dan aku akan menghabiskan liburan musim panasku dengan mengunci diri di kamar dan melalui hari hari yang tenang.

Ibuku, Victoria membuka sebuah toko kue yang cukup ramai. Ia adalah seorang sanguinis, extrovert dan sangat menyenangkan. Berbeda dengan ku, tertutup dan kaku - membuat ibu sangat khawatir jika aku tidak punya teman. Aku tidak ke bioskop, tidak pergi bersama teman – teman saat liburan atau apapun itu yang mereka sebut sebagai ‘bersosialisasi’. Anak – anak itu terlalu berisik, menghabiskan waktu di caffee berjam – jam, mengunyah sebanyak mungkin makan yang mereka bisa sambil mengeluarkan sumpah serapah untuk mantan dan orang yang lebih popular dari mereka di sekolah, sungguh menjijikkan! Atau memamerkan dress musim panas atau palette Anastasia Beverly hills yang sedang mereka pakai.

Dan ibu menyuruhku mengundang mereka hampir setiap akhir pekan? demi dewa Zaus di Gunung Olympus, tidak akan ! 
_________________________________________________________

Bersambung