Masih segar dalam ingatanku, cahaya temaram menerpa wajahmu kala Senja menyapa
Berbingkai Jingga yang menghias carkawala
Berpadu membentuk siluet nan mempesona
Bersama deru ombak, kulihat sepasang jejak kaki beriringan
Kini Senja telah dilahap sang malam
Menyisakan rindu dan nestapa
Ia nampak muram, garis wajahnya lelah, matanya sembab
Masih berkabung melepas kepergian Jingga
Ia merindu setengah mati, menjerit dalam diam
Dadanya semakin sesak menahan kesedihannya
Burung - burung saling bersahutan, apa gerangan yang menimpa Senja?
Tangisnya pecah menghujani bumi, deras sekali.
Selamat jalan Jingga
Waktu telah sampai pada kesudahannya
Pupus sudah harapku, gumam Senja masih terisak
Perpisahan itu terasa begitu menyakitkan baginya
Ia kehilangan tawanya, juga senyumnya, juga warnanya, juga jiwannya
Cahaya keemasan Jingga tak lagi menghiasi langit Senja
Cakrawala menjadi pucat pasi tak berwarna
Bahkan hingga bertahun - tahun berlalu, hati Senja tak kunjung membaik
Hatinya gersang merindu
Dipeluknya erat siluet kala Senja nan indah itu
Entah sampai kapan, ku kira selamanya.
Selamat Jalan Jingga..
Puisi ini saya tulis beberapa tahun lalu,
No comments:
Post a Comment