Monday, 3 June 2019

SILUET KALA SENJA


Masih segar dalam ingatanku, cahaya temaram menerpa wajahmu kala Senja menyapa 
Berbingkai Jingga yang menghias carkawala 
Berpadu membentuk siluet nan mempesona 
Bersama deru ombak, kulihat sepasang jejak kaki beriringan
Kini Senja telah dilahap sang malam
Menyisakan rindu dan nestapa

Ia nampak muram, garis wajahnya lelah, matanya sembab
Masih berkabung melepas kepergian Jingga
Ia merindu setengah mati, menjerit dalam diam 
Dadanya semakin sesak menahan kesedihannya
Burung - burung saling bersahutan, apa gerangan yang menimpa Senja?
Tangisnya pecah menghujani bumi, deras sekali. 
Selamat jalan Jingga

Waktu telah sampai pada kesudahannya
Pupus sudah harapku, gumam Senja masih terisak
Perpisahan itu terasa begitu menyakitkan baginya
Ia kehilangan tawanya, juga senyumnya, juga warnanya, juga jiwannya
Cahaya keemasan Jingga tak lagi menghiasi langit Senja
Cakrawala menjadi pucat pasi tak berwarna

Bahkan hingga bertahun - tahun berlalu, hati Senja tak kunjung membaik 
Hatinya gersang merindu 
Dipeluknya erat siluet kala Senja nan indah itu 
Entah sampai kapan, ku kira selamanya. 

Selamat Jalan Jingga.. 

Puisi ini saya tulis beberapa tahun lalu,