Hallo semua! Senangnya bisa kembali menulis di blog ini.
Kali ini saya akan membagikan
pengalaman saya meng- handle dua couple dari Kuala Lumpur sekaligus me-review
beberapa spot menarik di Lombok tentunya. Tour berlangsung selama 4 hari 3
malam. Jujur saja, bagi saya meng-handle couple itu lebih gampang daripada
group atau individu. Their partner will take care of them most of the time,
karena beberapa kali begitulah yang saya temui di lapangan. Jadi yang saya
lakukan hanya capture that moment.
Couple yang saya bawa masih muda
jadi mereka lebih santai, pekerjaan saya selama 4 hari itu terasa sangat ringan.
Di hari pertama saya harus menjemput rombongan di Bandara Internasional Lombok,
Praya Lombok Tengah dengan driver saya, Mas Mulyadi – biasa saya panggil mas
Mul. Beliau sudah jadi partner tour saya sejak beberapa tahun lalu. Orangnya
asik, santai dan tidak suka mengeluh. Yah, beberapa kali saya temui driver yang
sangat suka mengeluh, I means – ketika durasi tour agak molor sedikit karena
tamu lama makan, pengen lama di tempat wisata dan sebagainya, mereka akan
menggerutu. Namanya kita jual jasa, sebisa mungkin mereka harus happy selama
liburan.
Saya pribadi sangat takut dan
suka kepikiran kalo tamu ada gelagat gak puas. Mereka sudah terbang jauh – jauh
untuk liburan, mengeluarkan biaya juga waktu, terus gak happy? I would feel
very bad if that happen.
Back to the tour,
Ketika nunggu di terminal
kedatangan, saya sempet bolak – balik pintu depan dan samping. Jadi sebenernya
pintu samping itu buat yang mau naik bis tapi entah kenapa banyak penumpang
private car keluar dari sana. Jadi buat jaga – jaga saya bolak balik aja.
Dari bandara kami makan siang
dulu di rumah makan Padang. Choo bilang mereka sudah pernah makan masakan
padang di Jogja, ini adalah kedua kalinya mereka ke Indonesia. Rumah makannya
ada persis di seberang Bandara. Saya cuma minum jus alpukat, kalau kenyang
ketemu AC saya biasanya bakal ngantuk berat. Hahaha
Tujuan pertama kami adalah Desa
Sade di Rambitan. Desa ini adalah salah satu desa adat suku sasak, suku asli
Lombok. Selain Sade, ada beberapa desa adat lain seperti Ende dan Bayan. Tapi
konon Sade adalah yang paling tua dan populer. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk
sampai, dari tampilannya waktu ke waktu
desa ini terus mengalami perbaikan. Saat itu suasana cukup ramai, saya lalu
memanggil guide setempat. Sebut saja Pak Hamid, saya lupa namanya. Ada beberapa
kelas guide disini, tergantung dari bahasa yang dikuasai. Semakin bervariasi
semakin mahal tarifnya.
Pak Hamid mengajak kami berkeliling
dan menjelaskan pakai bahasa Indonesia, kemudian saya terjemahkan ke dalam
bahasa inggris.
Sade merupakan desa adat
sakaligus desa wisata, sehingga desa ini adalah desa ‘normal’ masyarakatpun
hidup dan beraktifitas seperti biasa. Sade disebut desa adat karena masyarakat
Sade masih memegang nilai nilai adat dan tradisi asli suku sasak. Dijaman yang
kian modern ini, mereka masih memilih tinggal di rumah – rumah kayu beratap
ilalang, lantai tanah liat yang setiap minggu dipel menggunakan kotoran sapi.
Iya, kotoran sapi ! ini bertujuan supaya lantai semakin kokoh, juga menghindari
nyamuk dan debu. Tiga hari pertama bau akan sangat menyengat, tetapi setelah
itu tidak lagi.
Pak Hamid menjelaskan bahwa sade
terdiri dari sekitar 700 jiwa dengan sekitar 150 Kepala Keluarga. Setiap rumah
atau dalam bahasa sasak disebut ‘bale’ di tinggali oleh 1 kepala keluarga saja.
Tak lupa kami melihat – lihat
kedalam rumah, terdapat 2 ruang saja yakni sebuah kamar dengan pintu yang yang
letaknya lebih tinggi merupakan tempat tidur untuk anak gadis, sementara diluar
untuk anak laki – laki dan orang tua.
Pak Hamid menjelaskan, atap rumah
yang berupa ilalang tersebut akan diganti 16 tahun sekali.
Masyarakat disini masih
memelihara keterampilan menenun kain, yang disebut songket. Semua dibuat dengan
manual menggunakan alat tradisional. Dari mulai memintal kapas menjadi benang,
hingga menenun benang menjadi kain. Keahlian tersebut diwarisi turun temurun
terutama kepada anak perempuan. Konon untuk bisa menikah, perempuan sasak harus
bisa menenun kain.
Kami kembali di ajak berkeliling
oleh Pak Hamid ke bale lumbung, yakni dimana mereka menyimpan hasil panen. Pada
tiangnya dibuat semacam pyramid terbalik agar tikus tidak bisa masuk.
Selain bale lumbung terdapat
berugak panjang yang menjadi tempat musyawarah sekaligus tempat digelarnya
acara pernikahan, tak lupa Pak Hamid menjelaskan mengenai adat pernikahan yang
terbilang unik. Kawin lari, sebuah tradisi adat yang masih dipegang teguh
masyarakat suku sasak. Tak hanya di desa sade, bahkan di daerah tempat tinggal
saya di Mataram yang bisa dibilang sudah lebih modern, masih ada kawin lari.
Kawin lari disini agak berbeda,
dikatakan kawin lari sebab tidak memakai proses melamar. Selain itu pcalon
pengantin perempuan akan ‘diculik’ dna dibawa ke rumah kerabat laki – laki
selama satu malam. Keesokan hari nya, keluarga laki – laki akan mengirim
selabar atau kabar berita dengan mengutus beberapa orang ke rumah calon
pengantin perempuan. Barulah musyawarah akan dilaksanakan untuk menentukan
tanggal serta prosesi perkawinan adat lainnya.
Selain bekerja sebagai petani,
masyarakan desa Sade juga membuka gerai – gerai souvenir yang menjual baju,
kain, dan pernak pernik khas Lombok lainnya, dan Pak Hamid mengajak kami
melihat gerai miliknya. Setiap kelapa keluarga biasanya mempunyai gerai
sendiri.
Lalu Choo bertanya kepada saya,
“Haruskah saya membelinya?”
Anda tidak harus membeli jika
memang tidak berminat, tapi kalau ada memang berminat silahkan saja.
Setelah sekitar 30 menit
berkeliling desa Sade, kami berpamitan kepada Pak Hamid dan berterima kasih
telah membawa kami berkeliling. Kami segera berangkat ke tempat selanjutnya
yaitu pantai Tanjung Aan.








