Sunday, 19 May 2019

THE WARMEST WINTER ( CHAPTER 1 )

Holla amigos!
It takes forever for me to write on this blog again! Belakangan ini lagi punya waktu luang untuk nulis lagi. Sebenarnya project cerita ini konsepnya udah lama banget saya buat, masih jaman nge-ship Khuntoria. Well, they both are inspiring me to write this story. Hope you guys enjoy this! Thank you. 

S  L  E  E  P     P  A  R  A  L  Y  S  I  S

Dada terasa sesak, napas seakan sudah berada di tenggorokan, ku dengar suara samar memanggil manggil. Jauh dalam kepalaku, aku berusaha mencerna apa yang terjadi, seperti benang - benang kusut yang susah payah aku coba urai kembali. Semua terasa abu - abu, dan hampa. Kudapati diriku buta, tuli dan bisu.

Meringkuk sendirian dalam ruang tak bersudut nan suram, bertanya – tanya dimanakah ujungnya. Apakah aku baru saja bertanya pada diriku sendiri? Sebab tiada apapun disini selain pikiranku, bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri. Dan begitulah aku berakhir, terkurung dalam pikiranku sendiri.
Ku dengar kembali suara samar itu memanggil setelah sekian lama, suara apakah itu? Aku menunggunya datang kembali.

Satu, dua, tiga, empat, lima, ia tak kembali.

Tapi terus kuhitung dalam kepala. Ku dengar jantungku berdenyut bersama kesadaran yang sedikit demi sedikit kembali memenuhi tubuhku dari ujung ke ujung tanpa celah.

Gelombang – gelombang menghantam gendang telingaku, otak ku berusaha mengenali setiap suara yang datang. Otot – otot tubuhku kaku tak bekerja, saraf – saraf nya seperti mati.

“Sera.. Sera.. Sera..”

Suara itu terus berdengung, yang ku kenali sebagai suara ibu.
Aku bisa berpikir dan mendengar, tapi tidak bergerak. Otot – otot tubuh ku masih tak bekerja, bibirku rapat tak bersuraa. Apa yang terjadi? kepanikan memenuhi diriku.

Bangun.. ! bangun.. ! bangun.. !

Pekikan keras dalam kepalaku tapi tak terjadi apapun. Seakan otot dan saraf ku sudah tidak patuh lagi. Mataku tetap tertutup ketika kuminta terbuka, tangan dan kaki tetap kaku saat ku minta bergerak. Ku coba lagi, tetap tak bisa. Aku semakin panik.
Sekuat tenaga aku berontak dari belenggu ini. Ku hitung mundur dan kurasakan diriku terjatuh dari puncak tertinggi Burj Khalifa menghantam tanah – aku sadar.

Napasku masih terengah – engah, gemetaran. Mataku dengan panik menerawang sekeliling, perut terasa mual memikirkan apa yang barusan saja terjadi.

“ Sera.. “ sentuhan ibu pada bahu kanan mendatangkan kekuatan dan kuasa atas tubuhku sendiri. Otot dan saraf sudah bekerja dibawah kesadaranku. Tubuhku terasa sangat lemas seperti telah melepas banyak energi. Jari jemariku bergerak merasakan seprei merah muda yang masih harum. Tanganku bergerak meraih tangan ibu. Aku melihat ia tersenyum , aku mengatakan sesuatu yang ku yakin ia tak mendengarnya.

“Apa? Kau bilang apa?”

“Selamat pagi.” Jawabku.
__________________________________________________________

Pagi ini terasa seperti biasanya, tipikal pagi seorang ‘Sera Namira’ yang sudah kujalani selama 17 tahun. Sebenarnya masih terasa lemas setelah pergulatan pagi tadi, terlebih semalam perutku hanya diisi dengan keripik tortilla. Berharap pagi ini bisa mendapatkan sarapan yang cukup menyenangkan, yang kudapat hanya muffin sisa semalam dan segelas jus jeruk.

“ Cepatlah Sera, kita sudah terlambat.” 

Ibu berteriak dari ruang tamu padahal aku belum selesai minum. “Baik bu, aku datang.” jawabku bergegas mengambil ransel. Diluar ibu sudah siap dengan blouse V-neck putih yang senada dengan kemeja Nicholas, tunangan ibu ku yang dalam satu bulan akan menjadi ayah tiriku. “ Ini tidak direncakan, ku kira semacam ikatan batin. “ jelas Nicholas seperti ia mampu membaca pikiranku. “ aku memberinya tatapan ‘apakah aku bertanya?’ dan ia hanya tersenyum membuka pintu mobil untuk ku.

Sepanjang perjalanan ibu mengoceh tentang betapa indahnya Maldives, dan betapa beruntungnya dia bila bisa kesana. Well, kita semua pasti tahu kemana arah pembicaraan ini, sebuah bulan madu romantis di pulau dengan pantai dan sinar matahari yang hangat jauh dari kota yang sibuk. Dan aku akan menghabiskan liburan musim panasku dengan mengunci diri di kamar dan melalui hari hari yang tenang.

Ibuku, Victoria membuka sebuah toko kue yang cukup ramai. Ia adalah seorang sanguinis, extrovert dan sangat menyenangkan. Berbeda dengan ku, tertutup dan kaku - membuat ibu sangat khawatir jika aku tidak punya teman. Aku tidak ke bioskop, tidak pergi bersama teman – teman saat liburan atau apapun itu yang mereka sebut sebagai ‘bersosialisasi’. Anak – anak itu terlalu berisik, menghabiskan waktu di caffee berjam – jam, mengunyah sebanyak mungkin makan yang mereka bisa sambil mengeluarkan sumpah serapah untuk mantan dan orang yang lebih popular dari mereka di sekolah, sungguh menjijikkan! Atau memamerkan dress musim panas atau palette Anastasia Beverly hills yang sedang mereka pakai.

Dan ibu menyuruhku mengundang mereka hampir setiap akhir pekan? demi dewa Zaus di Gunung Olympus, tidak akan ! 
_________________________________________________________

Bersambung 


2 comments:

  1. Replies
    1. Thank you for your visit, Will post the second capture this week. Have a nice day!

      Delete