Tuesday, 15 July 2014

Akankah Domba Yang Hilang Itu Akan Kembali ?




K A W A N A N   D O M B A   D I  T A N A H   G E R S A N G . . .

Mataku sudah terkantuk diujung malam yang gelap nan dingin ini. Kulihat kakiku sudah gemetaran hampir kehilangan daya untuk tetap berdiri ditengah terpaan angin yang menusuk tulang. Kuhembuskan napas ke telapak tanganku yang sudah kaku, kuletakkan tepat dikedua telingaku. Ku hembuskan napas untuk kesekian kalinya.

Kulihat domba - domba dalam kelompokku berjalan beriringan, kulihat satu per satu wajah mereka mencoba menyimak suara didalam jiwa. Dikawanan yang sama aku lihat domba itu begitu segar dan gemuk, langkahnya cepat dan jelas. Ku alihkan pandanganku, beberapa domba yang lain terlihat begitu kurus, bulunya kusut dan kotor, langkahnya berat dan terengah - engah. 

Kami terus berjalan menyusuri daratan kering nan gelap itu, aku mememeluk diriku bertahan dari terpaan angin yang semakin kuat, kali ini disertai debu yang mengganggu penglihatan. Kamipun sampai disebuah sungai kecil dengan air agak keruh. Tenggorokanku berdenyut karna sudah begitu kering dan dahaga kami sudah memuncak. Gembala menghentikan langkah kami dengan tongkatnya, 'Itu bukan air dari langit yang jernih dan menyegarkan.' Katanya. Aku memutuskan untuk bertahan sedikit lagi, air keruh itu dapat merusak penglihatan, pendengaran, dan pikiranmu. Kulihat domba - domba yang gemuk itu berhenti dan mengikuti langkah gembala menyebrangi sungai keruh itu. 

Saat hendak menyebrang ku lihat ada yang berbeda, beberapa ekor domba asing masuk ke kawanan kami dan mengacaukan barisan. Gembala yang baik itu mengenali siapa dombanya dan siapa yang bukan. Ia tidak memberikan rumput kepada domba - domba asing itu sehingga mereka kelaparan dan meninggalkan kawanan kami dengan dahi berkerut, terdengar kertakan gigi yang menyedihkan pula.

Perjalanan kembali dilanjutkan dan kali ini aku kembali menyadari sesuatu. Aku berada dibarisan yang berbeda karna beberapa domba ternyata berhenti dan meminum air yang keruh itu. 'Kenapa kalian meminumnya? itu bukan air dari langit yang jernih dan menghilangkan dahaga.' Teriak gembala. Domba - domba itu berkata, 'Kami sudah terlalu haus, daratan ini semakin kering saja. Air sungai yang jernih dan menyegarkan itu belum juga terlihat. Apakah kau memperdaya kami ?' ucapa seekor domba sambil meminum air keruh itu. Gembala hanya bisa tersenyum melihat domba - dombanya meragukan janjinya. 'Yang bisa mendengar, dengarlah ! yang bisa melihat lihatlah ! sesungguhnya sungai yang jernih itu sudah dekat. Kalian akan melihatnya saat fajar telah menyingsing.' ucapnya. 

Tak lama kemudian domba - domba yang meminum air keruh itu jatuh terkulai lemas. 'Apa yang terjadi ?' aku berbisik lirih. Matanya tidak dapat melihat, telinganya tidak dapat mendengar dan tak berdaya. Kakinya lumpuh tak dapat berjalan bahkan bangkit dari tanah kering kerontang itu. 'Lihatlah, bahwasanya sungguh air keruh itu tidak baik bagi kalian. ' Gembala mengayunkan tongkatnya dan kamipun melanjutkan perjalanan. Aku terus memandang ke belakang mengamati mereka yang terkapar tak berdaya, mereka domba - domba yang meninggalkan kawanan dan menghianati gembala. Merekalah domba - domba yang hilang, apakah mereka dapat kembali ke barisan ? 

-Maya- 

No comments:

Post a Comment