Sunday, 5 October 2014

Menyalakan Kembali Lentera Cinta

S A A T  C A H A Y A   M A H A   C I N T A   K U   H A M P I R   P A D A M . . .

Senja menghampiri jiwa yang gelisah, bersama sang surya hendak menutup hari yang panjang. Jutaan bisikan telah kudengar lirih, tapi jiwa seakan masih haus akan sang Maha cinta. Akankah aku bersua kembali? ragu dalam diriku berdaham seakan menjawab tanya. Tubuhpun lunglai kehilangan gairahnya, bersender diujung asa yang kian meninggalkan ku sendirian. 

Ku coba merangkai tiap lekuk dan sisinya, menggoreskan apa yang terlintas dalam kesadaran. Menangkap bayangan yang menari elok nan gemulai dalam kerinduan. Karnanya napas tak mengikuti melodinya, kaki tak lagi berpijak kokoh diatas sandarannya, mata kehilangan percikan tawa. Raut wajah itu menakutkan, memudarkan warna pelangi, menghalangi sinar mentari, menghujani hari dengan tangis pilu yang tak kunjung henti. 

Kulihat bulan sudah mulai penuh mengisi singgasananya, siap memukau mata dalam hitungan fajar. Senyumanku masih terbungkus kekecewaan yang kian menggerogoti Maha cintaku. Sinarnya meredup di senja ganjil pada bulan yang genap. Tapi aku bangkit menyalakan pelita Maha cintaku, menghangatkannya dengan tiupan kepercayaan dan kasih yang tersisa. Tapi angin kebencian dari seberang lautan membuatnya terluka dan layu, apakah kau akan menyiraminya ?  hanya Maha cinta yang bisa menghidupkannya - memercikkan air kehidupan yang akan menjaganya abadi. Kini tunasnya telah tumbuh dalam kebun yang berpagar tinggi, tak bisa ditembus penglihatan. Kau akan melihatnya ketika semua telah genap, ke dua belas bintang muncul menghiasi langit dan menghapuskan ketakutan pada waktu malam - ketika bumi dan langit ikut memberkati.

Kini hati kian mendamba kedatangannya, disaat janji telah diikat pada waktu yang telah berputar. Membawa sosok Maha cinta melanglang menjelajahi waktu, membiarkanmu terluka diterik siang. Tau kah kau rasa sakitmu hanyalah sementara? dia hanya mengujimu dengan gundah, kehampaan dan air mata. Kuhabiskan hari dengan dahi berkerut dan wajah yang masam, berharap patronoum akan merasuki jiwa. 

Seperti Zeus dengan burung malang itu, mengikat hati Hera disaksikan seluruh penjuru Argos. Sungguh indah peran Maha cinta - meluluhkan kerasnya jiwa Hephaestus yang diselimuti kebencian atas masa lalunya di Gunung Olimpus, dengan bisikan kasih afrodit. Begitulah sejarah mengenang kekuatan Maha cinta yang damai, dan kisahnya akan abadi bersama waktu.

Ku terkekeh pelan didepan cermin, mengamati garis wajahku yang mulai memancarkan senyuman. Bukankah ini terlalu kekanank - kanakan ? membiarkan jiwamu dikendalikan keegoisan yang merugikan. aku tertawa untuk kedua kalinya ketika cahaya Maha cinta menyilaukan jiwaku. Sekarang  percikan kebahagiaan telah nampak dari seluruh tubuhku mendengar Maha cinta bersenandung merdu sepanjang malam. Membawaku kembali ke dekapannya yang hangat dan damai.

-Maya- 

No comments:

Post a Comment