Tuesday, 18 November 2014

Mengambil Pelajaran Kisah Dayan Yang Hampir Buta Dikeroyok Kakak Kelas

Potret hitam kembali menerpa dunia pendidikan Indonesia, setelah dihebohkan dengan kasus JIS kini media kembali menemukan kasus yang tak kalah memilukan. Pagi tadi saya menghabiskan pagi sebelum berangkat kerja sambil menonton siaran berita, betapa kaget saat menyaksikan seorang anak laki - laki berusia 7 tahun bernama Dayan Ahmadi terancam kehilangan indera penglihatannya karena dianiaya. Yang membuat saya tak percaya adalah oknum yang menganiaya murid kelas 1 SD di Kalimantan Tengah ini tak lain adalah kakak kelasnya yang baru kelas 4 dan 5. Saya hanya bisa mengelus dada.. saya tak sampai membayangkan bagaimana mungkin seorang anak yang baru berumur 10/11 tahun sampai hati menyakiti temannya? apalagi hanya karena Dayan tidak mau memberi uang saat di palak. 

Ini bukan sekali ato dua kali kita dengar kasus - kasus penganiayaan, kekerasan yang menimpa anak - anak kita, bahkan ada beberapa kasus yang sampai merenggut nyawa mereka. Terlebih kekerasaan tersebut terjadi di lingkungan sekolah yang notabene adalah tempat mereka belajar dan di didik menjadi manusia - manusia berbudi pekerti luhur yang kelak akan mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. 

Melihat kondisi tersebut apakah harapan besar kita yang digantungkan di pundak mereka bisa tercapai? silahkan anda jawab sendiri.. yang jelas bukankah yang saat ini diharapkan bangsa Indonesia adalah pemimpin yang berbudi pekerti luhur - yang dapat mencerminkan sifat jujur, tegas, berani, integritas, adil, bijaksana, cerdas, cakap dan sehat ? hal yang kita saksiakan hari ini justru sebaliknya, kekerasan verbal maupun fisik, narkoba, dan sebagainya malah sangat lekat dengan anak - anak kita. 

Lalu siapakah yang harus disalahkan jika sudah demikan? apakah anak - anak tersebut yang harus disalahkan? ataukah pihak sekolah karena lalai memantau anak - anak kita? apakah guru? atau siapa? 

Jika kita menyalahkan anak - anak, SALAH BESAR !! Mereka hanya KORBAN dari kelalaian kita, orang dewasa entah pihak sekolah, guru, orangtua dan lingkungan. Anak - anak ibarat kertas putih yang siap di warnai oleh orangtua dan lingkungan, warna yang tergambar dalam kertas tersebut adalah cerminan warna lingkungannya entah itu abu - abu, hitam, kuning - it depend on us! 

Ketika anak - anak berkata kasar, kebanyakan menghakimi mereka sebagai 'anak nakal' padahal kata - kata tersebut absolutely bukan berasal dari hasil olah pikir mereka melainkan kata yang mereka peroleh dari luar dirinya entah teman, guru, orangtua dll. Saya mempunyai adik laki - laki yang usianya terpaut 5 tahun dari saya, suatu hari saya memarahi dia karena suatu hal. Betapa shock saya ketika beberapa hari setelah itu dia memarahi sepupu saya yang masih kecil persis sebagaimana saya memarahinya. Itu jadi tamparan keras buat saya, betapa buruk contoh yang saya berikan sebagai seorang kakak. 

Begitupun hal yang menimpa kakak kelas Dayan tersebut. Bukan berarti saya membenarkan apa yang kakak kelas Dayan lakukan, tapi saya hanya ingin mengajak kita untuk memandang masalah ini dari sudut pandang yang lain. kebanyakan orang mungkin mengutuk kakak kelas Dayan atas apa yang dilakukannya, tapi sekali lagi baik Dayan maupun kakak kelasnya adalah KORBAN. Pernahkan kita berpikir dari anak - anak tersebut belajar memalak? apakah sekolah mengajarkan bagaimana memalak? tentu saja tidak. Sejatinya bukankah anak - anak seharusnya menghabiskan hari - hari mereka dengan tawa, canda, bermain dan keceriaan? sekali lagi sangat tidak mungkin perilaku buruk seperti mengancam, berkata kasar sampai menyakiti orang lain adalah olah pikir mereka diumur belum genap 12 tahun? sekali lagi TIDAK. CHILDREN SEE CHILDREN DO.. Anak - anak adalah peniru ulung, sikap/perilaku mereka adalah refleksi dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Lingkungan bermain yang tidak baik, apalagi sekarang banyak tontonan yang sepatutnya mereka tidak tonton. Masih ingat anak - anak yang memabnting teman - temannya sehabis menyaksikan siaran smack down? 

Lalu apakah kita harus menyalahkan sekolah? rasanya tidak mungkin.. Sekolah yang seyogyanya jadi tempat mereka menimba ilmu dan budi pekerti justru menjadi tempat dimana hal mengerikan tersbut terjadi. Bagaimana mungkin kita menyalahkan pihak sekolah guru - guru yang mengajar? bukankah tugas mereka hanya menyampaikan materi pelajaran hanya saat jam belajar? Mana bisa beberapa guru harus menjadi dan fokus pada ratusan anak. Anggap saja di kelas 'A' dengan murid sebanyak 30 orang. Guru hanya manusia biasa yang tidak mungkin mengontrol 30 orang dari jam 8 sampai 2 siang dengan segudang kesibukannya. Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab menentukan psikologis dan perilaku seorang anak? jawabannya tentu ORANG TUA. 

Ketika kita menitipkan anak - anak disekolah apakah para orangtua lepas tanggung jawab atas anak - anaknya? Mungkin kita membayar mahal disebuah sekolah elit dengan harapan anak - anak kita akan pandai dan memiliki perilaku yang baik, anak - anak bukanlah cucian kotor yang anda titipkan ke loundry kemudian mengambilnya saat sudah bersih dan wangi. Anak adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang dititipkan kepada kita untuk kita didik dan besarkan menjadi manusia - manusia berbudi luhur sebagaimana kehendakNya. Jadi kitalah yang seharusnya mendidik mereka dengan cinta kasih serta mengajarkan nilai - nilai kebenaran, bagaimana mungkin titipan Tuhan tersebut kita delegasikan atau titip kembali ke orang lain dalam hal ini bisa lembaga pendidikan? 

Kita sebagai orangtualah perpanjangan tangan Tuhan dan menjadi penentu seperti apa perilaku anak - anak kita kelak. Tuhan memberi kita kuasa penuh untuk mengarahkan anak - anak itu kepada nilai - nilai kebenaran bukan guru, tutor atau pihak sekolah. Kewajiban kita tak hanya membesarkan mereka secara fisik dengan makanan dan fasilitas, tapi kita juga punya kewajiban membesarkan mereka secara psikologis menjadi pribadi utuh. Sekali lagi mari para orangtua intropeksi diri dan tanyakan kepada diri masing - masing sudahkan saya menjalankan peran saya sebagai pendidik anak - anak secara dengan maksimal? pernahkan saya secara terus - menerus menanamkan nilai kebenaran dalam kesadaran anak - anak saya? jika tidak lantas mengapa kita menyalahkan mereka jika berprilaku tidak baik? 

Kita punya harapan yang sangat besar pada generasi penerus kita, jangan kita bebankan pendidikan anak - anak kita pada institusi pendidikan semisal sekolah. Karna pada hakikatnya keluarga adalah titik nadi daripada tumbuh kembang seorang anak. Mari kita para orangtua mengambil alih pekerjaan kita sebagai pendidik utama anak - anak kita :) Semoga apa yang saya tulis ini bisa menginspirasi atau menjadi ingatan bagi kita semua :) :) Together we can, see the bright day ahead !

regards,

Maya

No comments:

Post a Comment