Saturday, 25 May 2019

THE WARMEST WINTER ( CHAPTER 2 )


I  N  T  R  O  V  E  R  T

Sayang, kemarin ibu mengobrol dengan Nyonya Ramsey yang memesan 500 Cinnamon roll minggu lalu. Ternyata putrinya satu sekolah denganmu. “ ibu membuka pembicaraan lain.

“ Yup, Helena Ramsey. “ jawab ku datar. 

Si rubah Ramsey itu, menganggap dirinya Kendal Jenner. Dia, Joane Alison dan Pamela Barnett membuat sebuah gank SMA yang membuatku muak. Gadis – gadis manja yang hanya tau bagaimana menghabiskan uang, mereka terbiasa keluar masuk restaurant kelas atas tetapi menganggap Buffalo Chicken terbuat dari daging banteng, atau yang lebih parah, saat Helena Ramsey mengatakan Quebec berada di benua Eropa. Kau boleh tertawa sampai rahangmu keram.

“ Ibu menawarkan diskon karena dia akan menggunakannya untuk acara amal, tapi dia menolaknya dengan sangat, well - rendah hati. “ ibu terdengar ragu.

“ Untuk dibagiakan kepada seluruh sekolah, tepatnya. Atas terpilihnya Helena Ramsey sebagai ketua pemandu sorak SMA kami. “

“ Apa ? kau bercanda? 500 cinnamon roll ? ”

“ Kukira itu tidak ada apa – apanya jika dibandingkan luas peternakan dan property yang mereka punya, Bill Ramsey. Aku membacanya di Koran pagi ini. “ tambah Nicholas. “ Well nona – nona, kita sudah sampai."

______________________________________________________________


Aku menghabiskan jam istirahat di koridor gedung bekas perpustakaan di lantai 3 yang tak pernah di lalui siapapun. Aku bisa melihat hampir seluruh sekolah dari sini, anak – anak yang sedang bermain basket di hari se – terik ini demi teriakan anak – anak perempuan kelas satu. Dan gadis – gadis itu sangat gila, maksudku, Pamella Barnett pernah menyimpan handuk bekas keringat Alex Boston saat kami kelas satu dulu. Aku ingin muntah, yang benar saja!

Aku membuka lembar ke 90 ‘Gone with the wind’ nya Margaret Mitchell hadiah dari Nicholas yang baru sempat ku baca. Ku teguk sedikit jus apel dingin yang barusan kubeli dari kantin, rasanya sangat menyegarkan membasahi tenggorokanku.

Walaupun aku tidak terlalu suka bergabung dengan anak – anak itu, aku suka mengamati mereka semua dari sini. Bagaimana interaksi mereka satu sama lain, tertawa, bertengkar, begitulah aku menghabiskan waktu ku yang membosankan ini.

Reaksi manusia bisa mereka manipulasi sendiri, tetapi jika kau perhatikan dengan teliti bahasa tubuh mereka menyampaikan kebenarannya. Bagaimana si pirang Alison berusaha tetap ‘terkesan’ dengan bualan Helena Ramsey tentang koleksi musim panas Kitten de Amor miliknya, agar dia tetap bisa diakui. Aku telah banyak melihat hal – hal semacam itu bagaimana mereka menelan bulat – bulat kekesalan dan ketidaksukaan lalu berkata “ Demi Poseidon yang Agung!, keren sekali!”

Begitulah  manusia lebih menyukai kebohongan yang manis dan berlari sejauh mungkin dari kebenaran jika menurut mereka  pahit. Melakukan apapun untuk menyeyangkan orang lain, kau tau hidup itu tetang berapa banyak koneksi yang kau punya. Dengan koneksi yang bagus, karir dan hidupmu akan berjalan mulus. Apa kau juga punya persfektif yang sama tentang konsep hidup? Nicholas tampaknya punya pandangan yang sedikit berbeda dari kebanyakan manusia yang kutemui. Nicholas, yang sepanjang hari bertingkah seperti Gagman di depan kami, kadang bisa sangat bijaksana. 

Untuk menikmati anggur di Valhalla, bangsa Viking harus pergi berperang. Medan perang mu saat ini kasat mata, manusia dan sifat - sifatnya. Mereka bahkan lebih mengerikan bukan? Jika kamu bisa mengatasinya, anggur terbaik Asgard ada di tanganmu. Itulah yang selalu Nicholas katakan padaku. 

“ Sera, kau Sera bukan? “ 

sebuah suara menahan langkahku menuju kelas di penghujung jam istirahat. Saat aku berbalik, ku lihat Dave berdiri tepat di belakangku.

“ Hei, kau diam saja. Jawab aku ! kau Sera kan? ”

Aku mengangguk.

Ia tampak mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian memberiku ekspresi yang aneh. Apa aku terlihat bodoh? Apa yang dipikirkan anak ini, entahlah.

“ Kenapa aku tidak pernah melihatmu, Sera? Padahal kita satu kelas. Sangat aneh.”

“ Tidak sama sekali, karena kau hanya masuk beberapa kali dalam seminggu. “ jawabku agak ketus, dia terkekeh.

“ Cepatlah, tentang apa ini Dave? Kau punya waktu 5 menit.” 

Suaraku terdengar ketus dan dingin, dia menyipitkan matanya sorot matanya menembus kedalam mataku. Membuatku, katakanlah – merasa aneh. Kami masih berdiri disana beberapa detik kemudian. Aku selesai menghitung dalam hati dan anak ini masih tidak berkata apapun, baiklah Sera, kau baru aja membuang 5 menit mu yang berharga. Aku melanjutkan langkahku, meninggalkannya yang masih membeku disitu.

“ Hei Sera! Aku belum selesai, cepatlah kembali !"

____________________________________________________________

“ William, apa kau kenal gadis kutu buku yang duduk disana? Aku terkejut ternyata dia tahu namaku, ‘Tentang apa ini Dave” seperti itu. Begitulah dia menyebut namaku”

David Larsson,  bermata biru dan berambut perak khas orang Skandinavia. Ia berbisik kepada William dengan suara yang keras, cukup keras untuk didengar seluruh kelas. Semua anak sontak bertukar pandang sebelum memandang kearahku. Seketika aku menjadi sangat gugup, bertambah gugup saat mendengar langkah Dave mendekat kearahku. Apa yang akan dilakukannya? Aku tidak punya keberanian untuk menaikkan pandanganku dari meja karena mereka semua masih memandangku.

“ Oh ya? Apa kalian pernah bicara sebelumnya?” timbal Wiliiam, si jangkung teman sebangkunya. 

Dave terlihat bepikir sejenak. “Nope, ku rasa karena aku cukup popular.”

Yang benar saja? Popular? Aku ingin terawa sekencang – kencannya, anak ini benar - benar sakit. Aku terkekeh pelan. Bisa - bisanya dia berpikir demikian. 

Tak kusadari Dave sudah hanya beberapa langkah dari mejaku, ku lihat mata hijaunya mengamati ku. Sial, apa yang diinginkan orang ini? Aku tak menghiraukannya, ku buka lembar demi lembar buku, berharap dia segera pergi. 

" Hei, apa yang salah dengan mu? mengapa kau terus mengacuhkan ku?" 

" Sebentar lagi kelas Professor Sullivan akan dimulai. Silahkan katakan yang kamu inginkan." Mungkin aku terdengar sedikit ketus, atau terlalu ketus? Ku lihat garis wajahnya sedikit berubah. Kemudian dia berbalik dan kembali ketempatnya. Tunggu, apakah aku keteraluan padanya? 

Bersambung


3 comments: