Ku sibak selimut hangat yang menutupi tubuh selama seribu malam yang melelahkan. menanti datangnya hari baru penuh harapan dan sorak sorai. Ku lihat lagi lembaran - lembaran tua yang diberikan gembala tua baik hati, ku putar waktu menuju masa itu tatkala kabut menutupi jiwaku. Aku hanyalah pelaku kehidupan yang belum memahami peranku, siapakah aku ? kakiku gemetar berdiri di panggung kehidupan yang mulai menunjukan wajah aslinya - kejam tanpa belas kasih.
Ku tanyakan pada sesorang yang datang dengan air dikedua pundaknya, memberi minum domba - domba yang haus dipersimpangan gurun. Dia menghalauku dengan tongkatnya, masuklah aku kedalam kawanannya. 'Apa yang kau lakukan disini?' tanyaku pada seseorang dari mereka. 'Aku hanya mengikuti dia.' dia menunjuk seseorang disampingnya. 'Aku mengikuti dia yang lebih dulu.' katanya kembali menunjuk seorang lagi disampingnya dan terus begitu sampai akhu menyadari sudah begitu banyak yang berdiri dibelakangku. 'Apakah mereka juga mengikutku ?' batinku. 'Apakah kau tahu kemana kita akan pergi?' bisikku ditengah kerumunan tapi tak ada satupun yang mengetahui. Berhari - hari kami mengitari padang gurun yang kering. Gembala itu hanya mnegarahkan tongkatnya sambil meneguk air dan buah anggur - upeti yang kami serahkan. Saat itupula aku tersadar gembala itu mengelabui kami dengan janjinya. ' Kenapa aku mengikuti orang - orang itu ?' ku kecam diriku sendiri. Mengikuti kawanan yang banyak belum tentu akan membawamu ke tempat yang kau tuju.
Ku berjalan seorang diri dengan keyakinanku. Ku singgah disebuah persimpangan jalan di penghujung senja. Kulihat kawanan tadi menyebrang ke selatan, kemana aku harus melangkah? Bukankah mengikuti kawanan yang banyak akan menyesatkanku? Ku diam sejenak mengumpulkan asa. Seorang gembala mneghentikanku saat aku akan melangkah ke utara, 'Mengapa kau akan pergi ke utara?' katanya. 'Karna aku yakin di utara aku akan temukan padang rumput hijau itu.' jawabku dengan wajah berbinar dan penuh gelora. 'apa yang membuatmu begitu yakin? tanyanya lagi. Aku terdiam, bukankah aku belum pernah menuju ke utara? aku tidak mempunyai pengetahuan dan ilmu sedikitpun tentang itu. 'Aku hanya mempercayai diriku sendiri, itulah yang aku yakini. Aku akan sampai dengan caraku.' Dia hanya tersenyum kecil dan menepuk bahuku. 'Jika kau menemukan seorang gembala yang terjaga sewaktu malam hari, hampirilah dia dan tanyakan tentang padang rumput itu, niscaya kau akan menemukannya.'
Benar saja, malam berganti siang, siang berganti malam aku terus terjebak dalam gurun yang semakin dingin ini. Aku benar - benar dibutakan oleh kebodohanku, ku terkapar tak berdaya. Hingga hari itu datang, hari yang merubah segalanya, ketika berkat datang menghampiri.
Masih jelas dalam kesadaran ketika gembala itu membacakan pernyataan yang jelas, barang siapa yang bisa mendengar - dengarlah!, barang siapa yang bisa melihat maka lihatlah! dia menyalakan lilin kecil yang akan menuntunmu ditengah kegelapan, dia memercikkan air sejuk yang akan menghilangkan dahaga, dia akan memberimu roti yang tak akan habis sepanjang jaman.
Hari itu bumi berada di titik Aries, hendak mengitari sang surya di hari yang ganjil. Mataku terbelalak atas apa yang kuterima. Mengapa selama ini hidup dalam bayang - banyang kesia - siaan yang memperbudak kesadaranku? dia hanya tersenyum penuh arti.
'Kemanakah kita akan pergi ?' tanyaku lagi. 'Ke padang rumput yang akan mendatangkan kehidupan, kau hanya perlu masuk kedalam kereta dan jagalah dirimu agar tidak terdesak ke tepi. Jika kau terdesak ketepi niscaya kau akan terjatuh dan tertinggal.' ucapnya lembut. 'Kapan kita akan sampai?' tanyaku lagi 'Di penghujung malam, ketika fajar telah nampak dari ufuk timur.' Begitulah aku menemukan diriku kembali, aku tidak akan tersesat lagi.
-Maya-
No comments:
Post a Comment