Tuesday, 26 August 2014

Chapter 2 'Kabut Kegelapan'


' T a t a p a n   i t u   m e n e r o b o s   j i w a . .  '

Ku amati bayanganku melalui cermin panjang yang terbingkai di dinding dekat jendela kamarku yang sengaja kubiarkan terbuka, membiarkan angin menyapu semua mimpi buruk semalam. Ku amati mataku dari cermin, mereka tampak sayu dan bimbang. Sekelumit peristiwa di Insandong dan sungan Han terus muncul bergantian di mataku, mereka begitu jelas. Tapi aku tidak akan membiarkan hal yang tak penting itu merusak mood di hari pertama disekolah baru. Kurapikan kerah bajuku sebelum siap meninggalkan kamar dengan seragam biru cerah dan ransel biru tua yang Nichkhun pilih. Kakiku melangkah pelan menuruni anak tangga, kulihat eomma dan Nichkhun menyambutku dengan senyum hangat mereka. 'You looks great, Krys! yeobo lihatlah putri kita !' dia sukses membuat pipiku merah merona. 'Aigo.. uri Soo Jung-ah, kau akan mendapat banyak pengagum rahasia di hari pertamamu.' goda eomma bersemangat. 

'Sudahlah eomma, berhenti membicarakan namja! Mereka tak penting buatku.' sambil ku mabil sepotong roti dan mengoleskan plain butter. Nichkhun pun berdeham, 'Seseorang lupa kalau ada laki - laki diruangan ini.' katanya sebelum meminum kembali kopinya berlagak sebal. Aku dan eomma hanya tertawa melihat tingkahnya. 'Tapi kau harus hati - hati sayang, kalau laki - laki itu mengganggumu segera hubungi aku. Araso ?' tambahnya. 'Oke, kalian berdua sudah terlambat!' eomma mengambil alih suasana dan meraih tas kerja milik Nichkhun. Sebagai sitri dan ibu yang baik, eomma tak lupa merapikan kemeja Nichkhun dan rambutku sebelum mendaratkan ciuman hangat di pipi kami berdua. Aku membalas di pipi kanan eomma sementara Nichkhun dipipi kirinya. Dia sungguh terlihat bahagia sekarang, masih menggandengan tangan kami hingga depan pintu. 

Kulihat eomma melambaikan tangan saat aku memasuki kursi penumpang dan Nichkhun membawaku menuju sekolah baruku, Daesang High School. Sekolah ini terletak di Nowon-gu, sekitar 30 menit dari pusat kota Seoul. Aku berdiri didepan gerbang tinggi, aku tidak yakin aku bisa mendapat teman disini sepeti sekolah lamaku. Siapa yang mau berteman dengan orang yang dingin sepertiku? 'Jangan terlalu khawatir, mereka pasti menyukaimu..' Nichkhun mencoba memberiku semangat. 'Aku akan menjemputmu sepulang sekolah, kau tak perlu mengikuti bimbingan belajar jika kau tidak mau. Semoga harimu menyenangkan!' 

Aku memasuki gerbang sekolah membawa beberapa berkas dari sekolah lamaku, aku berjalan melewati rerumputan luas menuju gedung belajar yang jaraknya sekitar 500 meter. Aku penasaran berapa yang harus dibayar Nichkhun setiap bulan, dengan fasilitas yang ada dia harus bekerja lebih keras. 

Setelah bertanya beberapa kali akhirnya aku menemukan koridor yang akan membawaku menuju ruangan kepala sekolah, kau salah jika menganggapku sendirian. Nichkhun masih disini, disampingku. Dia sangat keras kepala tidak membiarkanku menemui kepala sekolah sendirian, aku bukan siswa sekolah dasar melainkan siswa SMA tahun pertama yang cukup mandiri mencari runga kepala sekolahnya. Lihatlah dia tersenyum dengan senyuman khas itu, sangat tulus dan bahagia. Kami sampai disebuah ruangan di gedung utama, saat pintu terbuka seorang lelaki tua sedang duduk dimeja kerja bersama setumpuk dokumen, tidak salah lagi dia adalah Prof Lee Soo Man. 

'Omo, Tuan Horvejkul' senyum melengkung di wajah tuanya saat kami muncul dari balik pintu. Aku mengamati ruangan Prof Lee, ini seperti kau kembali ke jaman Joseon. 'Kau pasti Nona Horvejkul, kau lebih cantik dari penjelasan ayahmu.' ku terima pujiannya dengan senang hati. Tapi aku sungguh tidak menyangka Nichkhun bercerita tentangku, seberapa banyak yang dia ceritakan? Selanjutnya aku hanya duduk mendengar mereka berdua saling berbagi cerita, by the way aku baru menyadari bahwa Nichkhun tahu banyak tentang sejarah. Mereka terlihat seperti dua orang yang berasal dari masa yang berbeda dengan kita.

'Kelasmu berada persisi disamping studio musik, mungkin sekarang Prof Soo sedang mengisi kelas matematika.' Ucapannya sedikit memercikkan semangat untukku, aku suka matematika. 'Kamsahamnida Prof Lee, atas semua kebaikan anda.' Aku dan Nichkhun membungkuk memberinya hormat sebelum meninggalkan ruangannya. Nichkhun mengantarku kedepan kelas, 'Jaga dirimu baik - baik, sampai bertemu nanti sore!' dia memberiku high five sebelum pergi.

Aku berdiri didepan pintu, seorang wanita berambut panjang menghampiriku - tak salah lagi dia Prof Soo. 'Anyeong hasemnika..' sapaku sedikit gugup. 'Kau pasti siswa pindahan dari Busan itu, silahkan masuk.' ucapnya lembut. Aku merasa sangat gugup, apakah mereka akan menyukaiku? Semua mata tertuju padaku, aku mengamati satu per satu wajah mereka, ada yang menatap dengan penuh ingin tahu, beberapa memperlihatkan wajah tidak tertarik dan beberapa lagi berbisik satu sama lain. 'Anyeong hasemnika, perkenalkan aku Krystal Horvejkul dari Busan. Senang bertemu kalian.' begitulah aku memperkenalkan diri. Kulihat seorang gadis mengacungkan tangan, 'Namamu sangat aneh, apakah kau bukan orang korea ?' tanyanya. ' Ibuku berasal dari Qingdao, China.' jawabku singkat. Prof Soo menyuruhku duduk di bangku ketiga terakhir dari belakang, disampingku tidak ada siapapun - hanya bangku kosong dengan meja berdebu. Ku ambil tisu dari tas, dan membersihkan debu agar aku bisa belajar lebih nyaman.

'Hi Busan, aku Choi Sulli.' dia gadis yang menyebut namaku aneh tadi, dia berada didepan mejaku. "Bukankah aku sudah memberi tahu namaku?' jawabku sedikit ketus dan membuat senyumnya menghilang. 'Hei Sulli-ah, namanya Krystal. Maafkan dia Krystal-ssi.' seseorang disampingku menghampiri kami. 'Hwang Luna imnida, ' kami berjabat tangan. 'Yaa, bagaimana bisa kau seperti ini Krystal-ssi. Aku lebih dulu mengajakmu berkenalan tapi kau menjabat tangannya lebih dulu.' omel gadis bernama Sulli itu. 'Jangan dengarkan dia, biarkan saja.' tambah Luna semakin membuat Sulli cemberut. 'Mianhe, senang berkenalan denganmu Sulli-ssi.' dia menyambut tanganku dengan sangat semangat.

'Kry.. Krystal-ssi, maukah kau ke kantin bersama kami?' aku tertawa kecil mendengar Luna sedikit kesulitan menyebut namaku. 'Panggil saja Krys, tentu saja aku ikut.' ku ambil lunch box yang disiapkan eomma pagi ini. Kami berjalan menuju kantin, awalnya aku agak kaget ketika mereka menggandeng tanganku. Apakah aku bisa menganggap jika mereka menganggapku teman?

Kantin ternyata sangat sesak, dan mereka menyeretku ke meja di pojok kanan ruangan. Hari ini eomma membuat sushi untuk lunch box aku dan Nichkhun. 'Kau membawanya dari rumah?' Sulli menatapku heran. 'Eomma membuatnya untukku, whaeyo?' aku balik bertanya sambil memasukkan sepotong sushi kedalam mulutku. 'Anio, boleh aku mencobanya! baunya sangat enak.' aku mengangguk. 'Daebaak, jinjja mashita! rasanya seperti di restoran jepang mahal.' katanya mengacungkan jempol. ' Eomma ku suka memasak.' aku merasa sangat beruntung, memiliki eomma.

' Apa yang akan kalian lakukan setelah jam sekolah?' tanyaku. 'Aku ada 2 kelas tambahan hari ini, sungguh melelahkan!' Sulli memberiku muka masam. 'Aku malah punya 3 kelas tambahan, bagaimana denganmu Krys?' tambah Luna. 'Anio, aku tidak ikut bimbingan belajar. Setelah sekolah usai, aku pulang kerumah dan mengerjakan tugas.' mereka terkejut mendengar bahwa aku tidak mengikuti bimbingan belajar usai sekolah. Memang terdengar aneh, karna dominan siswa disini wajib mengikuti pelajaran tambahan untuk mengejar peringkat nasional, untung saja Nichkhun tidak memaksaku sedikitpun. 'Mwo? kau sungguh tidak mengikuti bimbingan belajar? lalu bagaimana dengan nilaimu? sulit dipercaya.' Luna menggeleng. ' Orang tuaku tidak memaksa, ya aku lakukan semampuku. Eomma ku akan kesepian jika aku tidak berada dirumah..' candaku, tapi memang benar. ' Kau sangat beruntung, aku sangat lelah belajar hingga larut malam agar aku bisa masuk Universitas Seoul.' Luna mendesah sembari meneguk coke yang ia beli.

'Setidaknya kalian mengerjakan tugas kelompok dari Prof Soo bersama, aku hanya sendiri.' Aku teringat tugas dari Prof Soo tadi, sebenarnya kami harus mengerjakannya berdua tetapi karna aku tidak punya teman sebangku, so I should do it by myself - poor me. 'Siapa bilang? kau punya teman sebangku - Hwang Zitao.' ku tatap Luna dengan dahi berkerut, dia baru saja bilang kalau aku punya teman sebangku. Aku agak sedikit ragu karna meja kami sangat berdebu, seperti sudah lama tidak terpakai. 'Dia memang jarang masuk, tapi entahlah mengapa Prof Lee tidak menegurnya sedikitpun.' Luna tampak berpikir. ' Dia punya wajah oval, hidung mancung dan matanya.. tajam sekali.. hmm.. misterius dan sedikit menakutkan.' tambahnya semakin membuatku penasaran mengenai sosok Hwang Zitao itu. ' Sangat sulit berkomunikasi dengannya. Dia tidak akan merespon kalau kau bertanya dan tatapannya membuatmu tidak nyaman dan ingin menghindar. Dia bahkan seperti bukan teman sekelas kita, Tao lebih banyak sendirian dan bersama kelompoknya.' Sulli mengarahkan pandangannya kepada sekelompok laki - laki tak jauh dari meja kami.

Ku ikuti arah pandangan Sulli, ada empat orang lelaki - sangat berbeda. Jika kau perhatikan akan tampak sesuatu aneh diseliling mereka - kabut hitam. Kabut itu mengikuti gerak mereka, saat seseorang yang Sulli sebut Baekhyun berpindah tapi kabut tetap bersamanya. Apakah aku menghayal ? ku pejamkan mataku sesaat tapi yang kulihat tetap sama. What's going on here ? ku hembuskan napas berat.

Ku amati sekali lagi, mataku menyipit saat melihat salah satu dari mereka - Kai. Sosoknya seperti pernah aku lihat sebelumnya, tapi dimana? Aku berusaha mengumpulkan memori - memori yang aku alami. 'Sungai Han.. ' suaraku berbisik.

'Krys.. ' Luna berbisik pelan mengacaukan lamunanku. 'Ne..?' tanyaku balik. 'Kris menatapmu dari tadi..' Ku lihat seorang dengan rambut blonde itu menatapku tajam. Kau pernah melihat domentor menyedot semua kebahagiaanmu? aku rasa aku merasakannya sekarang, tatapan dingin itu..

Authored by Maya

No comments:

Post a Comment